Biarliburan lebih maksimal di rumah, sajikan camilan lezat sembari menonton beragam hiburan. Nikmati sembari minum teh dan ngemil beberapa kue kering. Tak perlu bingung menentukannya, andalkan saja kue kering bikinan Belvachoco. 3 Pilihan Hampers Nasi dengan Lauk Komplet di Jakarta. Nahuntuk kalian yang menghabiskan liburan di rumah saja, ada berbagai kegiatan yang bisa kalian lakukan loh, yang tentunya membuat masa liburan kalian tidak membosankan. Apa aja sih kegiatan yang bisa kalian lakukan untuk membuat liburan di rumah terasa lebih seru, berikut penjabarannya : Memasak; Memasak bisa jadi salah satu pilihan Liburandirumah bisa menjadi seru, salah satunya dengan melakukan aktivitas ini. Kita bisa membuat konten-konten yang bermanfaat dan menghibur, serta mendidik. Beberapa konten yang dapat dilakukan adalah seperti membuat tutorial simple atau life hack yang dapat bermanfaat bagi banyak orang. Kita juga dapat membuat konten berdasarkan pengalaman 5Periksa Kesehatan bersama Keluarga. Di tengah liburan di rumah, tidak ada salahnya untuk terus memantau kondisi keluarga diri sendiri dan keluarga. Apalagi jika ada acara kumpul-kumpul di rumah. Pastikan semua anggota keluarga selalu sehat, sehingga tidak saling menularkan virus penyebab penyakit. Untuk memastikannya, kamu bisa mengajak Puisiliburan di rumah saja 2 bait. Moga corona cepat berlalu diam di rumah sudah jemu. Oleh sebab itu sahabat seringkali dijadikan tema dalam suatu karya sastra termasuk puisi. Kumpulan puisi tentang lingkungan alam hidup sekolah hutan rumah yang bersih indah dan sejuk 3 4 bait pendek singkat untuk tugas anak sd. PadaSabtu, 2 Mei 2020, giliran akun Instagram @sastramargonda menyelenggarakan Malam Sastra Margonda, acara baca puisi di rumah saja. Temanya "Gelora Chairil, Inspirasi Kartini". Tema tersebut diambil untuk mengenang kepergian (wafatnya) Chairil Anwar pada 28 April (1949) dan memperingati hari lahir Kartini pada 21 April (1879). KE3M. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Puisi 1Bukan Epilog Kehidupanbaru saja usai menyimpan penatdi atas waktu yang sering hilangdi balik rindu yang selalu menunggudi ujung asa tuk bersamadan saat ini kita rajut semua ceritatangantangan mungilmulangkahlangkah kecilmutawatawa lepasmutak akan berpendar tuk sementara waktu dan kini kusentuh hati lembutmukutarik mimpi bukan janjikuajak dalam ruang dunianyata dan mewujud jua ini bukan sebatas pelarianbukan sebagai epilog kehidupanhanya babak dalam curah kasih sayangsebagai lembaran cinta penuh ketulusansebagai jejak tuk kusimpan dalam etalase kebahagiaanPuisi 2Bukan Siang Tanpa Bayangkali ini bukan malam kembara tanpa rembulanasa yang menyentuh tingginya langitdengan tawa dan bahagiakali ini bukan lagi pagi berembun tanpa mentariangan yang berarak menatap mega di ufuk baratdengan riang dan senang semua menyajikan warnamengalir dalam jiwamemberi ruang dalam pori cintaku, kamu, dan kitakali ini bukan pula siang tanpa bayangsemua rasa menyeka kegelisahanhanya ketakutan kehilangan dan kesendiriankembali pada kesibukandan menutup kisah kebersamaankata yang kita sepakatimemancangkan cerita nyata, bukan semu sematamenerjang waktu tuk mengikat rindu dan kita bisa bergurau syahdu Bekasi, 10 Januari 2022 Lihat Puisi Selengkapnya Jakarta ANTARA - Penyair Joko Pinurbo atau juga biasa disapa Jokpin, membuat puisi khusus yang menceritakan tentang situasi pada saat sedang terjadi pandemi corona, seperti kampanye ajakan di rumah saja dan kisah yang menceritakan perjuangan melawan COVID-19. Jokpin membuat puisi tersebut sekaligus membacakannya dalam acara ruang sastra Puisi Cinta dirumahaja dalam saluran kanal YouTube Budaya Saya yang dipantau di Jakarta, Kamis, yang diikuti oleh 14 penyair lainnya yang juga sama-sama membaca puisi. Acara tersebut diinisiasi oleh sastrawan Putu Fajar Arcana dan didukung oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada acara tersebut seluruh penyair yang diundang, termasuk Jokpin, kemudian membacakan puisi karyanya masing-masing secara bergantian. Joko Pinurbo sendiri membacakan tiga puisi karnya, satu puisi merupakan modifikasi dari puisi yang pernah ditulisnya dan disesuaikan dengan kondisi saat terjadi pandemi corona seperti saat ini, sementara dua puisi lagi adalah karya baru yang ditulisnya pada Tahun 2020. Puisi pertama yang dibaca adalah modifikasi dari karyanya yang berjudul "Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya". Pada puisi yang dibuatnya pada Tahun 2018 tersebut, Jokpin mengubah dua kata dari penggalan sajaknya, yaitu yang sebelumnya "ponsel saya rusak dibanting lindu" menjadi "ponsel saya rusak digerogoti virus corona". Terdapat dua puisi lainnya yang Jokpin cipta dengan sajaknya berkorelasi erat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari pada masa pandemi COVID-19 saat ini. Berikut dua puisi karya Jokpin soal corona Maut Tersenyum Maut tersenyum Mengulurkan mawar sekuntum Dan dengan takzim mengecup jidatmu Kamu di rumah saja merawat dirimu sendiri Jangan berlagak gagah dan berani menghadapi pandemi yang ganas ini Biar aku yang berkeliaran Membagikan masker dan pembersih tangan Kamu di rumah saja merawat sepimu sendiri Biar aku yang berkeliling kota membagikan doa dan pembersih dosa Maut tersenyum Mengulurkan mawar sekuntum Dan dengan takzim mencium takutmu Joko Pinurbo 2020 Di rumah sakit Kalender mengucapkan selamat tidur Kepada mata ngantuk yang masih menyala Jam dinding mengucapkan selamat tidur Kepada dokter yang masih terjaga Obat tidur mengucapkan selamat tidur Kepada pasien yang masih berdoa KTP mengucapkan selamat tidur Kepada calon jenazah yang masih memikirkan besok akan dikuburkan di mana Joko Pinurbo 2020Pewarta Aditya RamadhanEditor Masuki M. Astro COPYRIGHT © ANTARA 2020 Ilustrasi contoh puisi pendek anak SD tentang berlibur, sumber foto Natalya Zaritskaya on Unsplash4 Contoh Puisi Pendek Tentang BerliburIlustrasi contoh puisi pendek anak SD tentang berlibur, sumber foto Vidar Nordli-Mathisen on UnsplashLiburan SekolahUlangan telah selesaiRapor hasil belajarTelah diterimaSaatnya kita berliburLiburan sekolahYang selalu dinantiAgar dapat bermainTapi tak lupa ombak bergulung-gulungLalu pecah di tepi pantaiMenerjang batu karangMengusik pasir seharianAnak kecil bermainDi tepi pantai bersama ombakDibawah sang surya yang terikTampak riang sangat OmbakSelepas ujian selesai selesaiAku dan keluarga melepas laraiPergi mengunjungi sebuah pantaiUntuk berlibur dan bersantaiSesampainya di sanaKutatap alam dan ku buka mataKusaksikan anugerah Sang PenciptaMelalui pemandangan yang mempesonaOmbak berdebuh hantam karangLawan nelayan yang balik petangSemakin dekat di pelupuk pandangMenuju darat dan CemarKuisi libur sekolah dengan tamasyaBersama keluargaku tercintaMengunjungi pantai bernama KutaPantai kebanggan milik NusantarKetika senja mulai menjamuKulihat burung Camar terbang berburuMenjepit ikan dengan cakar bak gancuSaksikan rantai makanan berlaluBurung Camar tidaklah jahatIni semua sudah jadi kodratIa terbang berpulang cepatDengan ikan di paruh melekat. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Oleh AdelbertusMenjaga jarak, bukan berarti kita tak cinta. Menjaga jarak, bukan berarti kita tak sayang. Menjaga jarak, bukan berarti kita berbeda Menjaga jarak, untuk semua jenis orang tersayang. Menjaga jarak justru membuat kita semakin bersatu. Negeri masih menangis dan dunia masih terluka. Air mata kini yang fana. Di atas cakrawala langit merintih dan bumi merindukan pelukkan jarak, bukan untuk diri sendiri. Menjaga jarak karena begitu banyak jenis orang yang dikasihi hujan yang harus ada dalam pelukan sang waktu. Jangan biarkan dunia mengambil lebih banyak lagi nyawa-nyawa kehidupan. Dengan menjaga jarak, kita menjaga keselamatan banyak jenis orang. Jangan biarkan keluarga, teman, dan orang-orang baik mengeluarkan air mata yang tak seharusnya. Kini kita hanya bisa menjaga jarak. Bukan membuat jarak itu semakin jauh adanya. Menjaga jarak, membuat kita bersatu bukan menjadi pecah bagai piring-piring kaca yang di lemparkan tuannya dengan tanpa sengaja. Menjaga jarak karena cinta. Menjaga jarak untuk Indonesia. Dengan menjaga jarak, negeri semakin bersatu melawan tagis dan air mata. Menjaga jarang bukan berarti tak sayang. Menjaga jarak karena kita saling cinta. Masih banyak jenis orang tak bisa menjaga jarak, mungkin mereka tak suka adanya jarak. Akupun tak suka adanya jarak di antara kita. Namun jangan biarkan cinta terbentang jarak. Di hati tetap kita bersatu tak sedikitpun jarak terlihat. Banyak cerita di balik becana, banyak dilema Covid-19, banyak tangis dan air mata tumpah bersama. Banyak sumbangan di mana-mana, di jalanan dan dari rumah-ke rumah. Banyak jenis orang bergantung pada pemerintah dan orang-orang kaya. Mereka terus menjadi penghuni jalan yang setia. Menunggu rezeki di tengah bencana dan memunguti doa-doa yang tak pernah kusam seperti hidup mereka. Mereka tak bisa di rumah saja. Mereka tak takut dengan Corona, apalagi Covid-19, dan Covid- berapapun itu. Mereka lebih takut jika anak-anak mereka dan keluarga kelaparan. Suara-suara itu mungkin sudah di kemas rapi oleh pemerintah banyak jarak yang belum di jaga, karena begitulah adanya. Beberapa Negara di dunia juga menjaga jarak karena mereka saling mencintai. Namun seluruh dunia masih pusing kepala. Ada begitu banyak jenis orang sudah sadar akan menjaga jarak, namun beberapa jenis orang lainnya harus di paksa menjaga jarak. Masih banyak yang berkumpul dan harus di bubarkan. Ada juga yang diam-diam kabur dan melangar banyakah rencana untuk berkumpul kembali, untuk liburan, cangkir-cangkir kopi sudah menunggu tuannya di warung-warung kopi. Gelas-gelas kaca yang haus penuh diam dan tetap menjaga jarak. Simpanlah semua rencana baik itu untuk nanti di mana waktu kita bisa berkumpul kembali, bertemu kembali, di mana nanti ada canda tawa untuk saling mencaci maki seperti dulu rumah saja, kata-kata yang lembut dan tenang. Ada yang sudah tenang di rumah saja, dan masih banyak tak bisa di rumah saja, bahkan ada yang tak punya rumah. Yang tak bisa di rumah saja karena tangisan dan teriakan mungkin tidak terlalu keras yang keluar di balik tembok rumah mereka. Mereka menyeret nasib mereka di jala-jalan kota. Terkadang tersandar di bawah pohon-pohon rindang menunggu keajaiban datang. Mereka adalah orang-orang hebat. Bahagialah yang bisa di rumah saja dan tetap menjaga jarak, menikmati layar televisi bercerita dan berbagi rasa. Hati yang gembira adalah obat melawan Corona. Apakah semua bisa bergembira.? Yang sudah gembira hatinya, mari bisa berbagi cinta agar hati yang belum gembira bisa menjadi gembira. Masih banyak jenis orang yang hatinya rapuh dan jauh dari kata gembira. Sekarang bumi tak hanya menyerap hujan, namun kini menyerap air mata dari hati yang menagis. Menguburkan sedih dan jiwa yang terluka, bukan jenazah. Hujan berderai menemani di rumah saja. Di cakrawala langit masih mengukir kisah di balik bencana yang tak kunjung selesai. Karena hidup juga tak akan tumpah, pecah, dan mengalir setiap hari. Kasus meningkat, yang di sembuhkan banyak, namun kematian juga bertambah. Bagaimana hati bisa gembira? Perasaan beradu antara sedih dan senang. Sementara, biarlah air mata dan hujan berbicara. Berharap derai hujan malam ini bisa perlahan menghanyutkan semua air mata dan luka tak berbekas, serta seluruh wabah bencana. Menunggu bulan purnama tersenyum kembali dan bintang-bintang bersinar lagi. Bumi kembali tersenyum bersama 2020 Lihat Puisi Selengkapnya Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Ada yang berpesan di rumah sajaTapi, libur panjang ini sungguh menggodaJika menjalankan protokol, tentu tak mengapaToh tempat-tempat wisata memberi senyummembuka maskernyaUang bukan masalah untuk segelintir merekaMasih ada simpanan belum terpakai benarIni seperti momentum setelah meranadi rumah sepanjang coronaBiarlah ekonomi berdenyut lagi nadinyaMobil-mobil telah berada di jalananHarapan telah bersatu dengan debudi jalan tol dan sekumpulan restoranLiburan itu menjadi niscaya bahwakeindahan itu masih ada Liburan di tengah corona bak fatamorganabagi mereka yang telah banyak kehilanganHilang kesehatanHilang pekerjaanHilang handai tolanHilang ingatan Biarlah swafoto mengabadikan liburan coronaBukti bahwa kita pernah menjadi penyintaszaman yang dipenuhi kegamanganTidaklah lagi jelas antara perjalanan danperhentianCimahi, 29 Ok 2020 Lihat Puisi Selengkapnya

puisi liburan di rumah saja